Menengok Sekolah Masakan Favorit di Korea

Menengok Sekolah Masakan Favorit di Korea
Kegiatan telah terasa mulai jam 07:00 pagi di sebuah dapur “lab” di sebuah lantai di gedung berlantai 13 di Universitas Woosong, Daejeon, Korea Selatan. Mereka merupakan mahasiswa dari jurusan “Culinary Arts” di universitas hal yang demikian. Para siswa ini sedang belajar “Breakfast Menu”. Mereka menyiapkan makan pagi dengan cara ‘buffet’ yang bisa dirasakan oleh keluarga besar universitas hal yang demikian.

Baca : Baking Course Jakarta

Dengan membayar KRW 1,000 atau sekitar Rp. 10,000, para pengunjung bisa merasakan menu lengkap makanan yang berasal dari banyak negara. Ini merupakan salah satu kesibukan rutin yang diadakan di kampus yang tenar dengan jurusan Culinary Arts di Korea Selatan.

Ketika ini industri makanan di Korea Selatan berkembang dengan kencang bagus itu di dalam negeri ataupun di luar negeri. Alhasil ini tentunya tak lepas dari keseriusan pemerintah Korea untuk mempromosikan industri makanan mereka via bermacam-macam tipe kesibukan termasuk festival makanan yang diselenggarakan di bermacam-macam kota di negeri gingseng ini. Siapa yang tak ketahui Kimchi, salah satu makanan paling sehat yang berasal dari Korea?

Pemerintah juga secara aktif menolong universitas atau organisasi yang serius mengenalkan dan melestarikan makanan Korea. Hanya kita bisa menemui banyak restauran Korea yang dikala ini berada di kota-kota besar di semua dunia termasuk Jakarta, Indonesia.

Culinary Arts tak Cara Belajar Setelah Memasak

Pada biasanya jurusan Culinary Arts ditawarkan sebagai kursus atau diploma yang bisa diatasi dalam waktu satu hingga dua tahun. Para siswa diajarkan bagaimana metode memasak yang bagus via sebagian ketrampilan memasak itu sendiri. Malahan lulus mereka akan dengan pesat berprofesi bagus itu di restauran, menjadi wirausahawan, atau di industri pariwisata.

Seiring dengan perkembangan jaman, dikala ini mereka juga dituntut untuk belajar bagaimana memperkenalkan makanan hal yang demikian dan juga memasarkannya terhadap masyarakat lazim. Tapi mereka juga patut melaksanakan penelitian mengenai makanan. Jurusan Culinary Arts mungkin tak sepopuler jurusan lain umpamanya bisnis atau teknik dikebanyakan sekolah atau universitas. Kecuali demikian, memperhatikan keperluan pasar, dalam sebagian tahun terakhir atensi mahasiswa belajar di jurusan ini meningkat. Ada banyak unsur kenapa jurusan ini kian banyak peminatnya. Menurut sebab industri makanan yang telah global, sebagian program di TV seperti “Master Chef” juga menolong mempromosikan program ini sehingga makin ketahui di masyarakat.

Terkait : Cooking course jakarta

Padahal Prof. Oh Suk Tae, Dean Culinary Arts di Universitas Woosong, dikala ini ada kurang lebih 1,400 siswa yang belajar di Culinary Arts Woosong. Mereka beberapa besar berasal dari Korea Selatan. Mereka belajar dari tingkat diploma, sarjana hingga pasca sarjana. Bahasa pengantar yang dipakai merupakan bahasa Korea, selain untuk program Culinary-MBA (C-MBA), bahasa pengantar merupakan bahasa Inggris.
Di program sarjana mahasiswa bisa mengatasi selama empat tahun. Mereka belajar seputar memasak dan teori makanan. Dikala di program pasca sarjana mereka lebih banyak belajar seputar manajemen Culinary Arts. Para pendidik bagus di program sarjana ataupun sarjana merupakan para Profesor dan juga praktisi “Chef” yang tak saja berasal dari Korea melainkan juga berasal dari negara lain seperti Swiss, Perancis, Jepang, China, Amerika, dan lain-lain.

Mahasiswa di jurusan ini tak cuma berasal dari Korea melainkan juga dari negara lain seperti Indonesia, China, Filipina, dan Singapura. Mereka kebanyakan datang untuk belajar kuliner Korea. Ketika ini ada enam mahasiswa Indonesia yang sedang belajar program ini. Mereka belajar di program sarjana dan pasca sarjana.

Padahal Felicia Santoso, siswa dari Indonesia yang dikala ini sedang kuliah C-MBA di Woosong, setelah selesai di program C-MBA ia berkeinginan memiliki kios atau resto. Ketika ini ia sedang gigih tak cuma belajar manajemen Culinary Arts melainkan juga bahasa Korea. Malahan pengantarnya dengan bahasa Inggris melainkan kalau bisa mengobrol bahasa Korea karenanya akan lebih gampang untuk mempelajari bisnis makanan Korea juga, ujarnya. Salah satu hal yang manarik di program Culinary Arts di Universitas Woosong merupakan adanya program Global Korean Culinary Arts.Program ini banyak diminati oleh mahasiswa asing sebab tak banyak universitas yang memiliki spesialisasi program ini di Korea Selatan. Tapi pemerintah Korea Selatan via Kementerian Makanan, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menunjuk jurusan ini sebagai salah satu program favorit dalam pengajaran Culinary Arts di Korea pada tahun 2010.

Di dalam jurusan ini mereka tak cuma belajar mengenai kuliner tradisional Korea melainkan juga belajar memperkenalkan makanan cocok dengan tata metode kuliner Korea. Di Woosong mereka juga memiliki dapur ‘lab’ kuliner Korea beserta dengan daerah praktek penyajian makanan. Dapur ‘lab’ ini merupakan salah satu dari delapan belas lab yang ada di kampus ini. Lazimnya ini kadang-kadang juga menjadi daerah shooting drama Korea. Cara satu dapur di isi oleh dua puluh hingga dua puluh lima mahasiswa.

Sistem Balajar

Sistem pendidikan yang dipakai di sekolah ini amat unik. Mereka menerapkan“Block Training System”. Pada siswa belajar satu keahlian umpamanya “Basic Cuisine” selama tiga pekan berturut-ikut serta. Setelah di sekolah lain satu keahlian ini diatasi dalam satu semester. Malahan selesai satu keahlian mereka patut ditest untuk melanjutkan ke tingkat keahlian lebih lanjut. Dalam semester lazimnya mereka belajar dua hingga tiga keahlian dan 3 mata kuliah yang lain merupakan teori. Prof. Oh menyelaskan bahwa “Block Training System” diandalkan sebagai cara yang paling tepat sasaran untuk melatih ketrampilan siswa. Ada dua shift dalam cara ini ialah pagi dari jam 07:00 hingga jam 14:00 dan siang hari dari jam 14:00 hingga jam 19:00. Memang tak gampang untuk menjadikan Chef yang pakar. beliau berbangga bahwa siswa di Culinary Arts memiliki prestasi yang cerah dengan menjuarai sebagian laga memasak di tingkat internasional dan mereka berprofesi tak cuma di Korea melainkan juga di negara lain.

 

 

Team building jakarta