Kadin: Industri Logam Terhambat Pertumbuhan Karena Harga Gas

Kadin: Industri Logam Terhambat Pertumbuhan Karena Harga Gas

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengevaluasi pertumbuhan industri logam dasar ketika ini masih terhambat oleh tarif produksi. Ketua Komite Konsisten Industri Logam, Mesin, dan Alat Transportasi Kadin I Made Dana Tangkas mengatakan, tarif produksi industri logam dasar ketika ini mengalami kendala imbas harga gas yang masih tinggi di Indonesia.

Dana mengatakan, ketika ini harga gas masih menempuh US$ 9,5 per mmbtu. Harga hal yang demikian masih lebih mahal diperbandingkan di Jepang dan Rusia yang cuma US$ 6,3 per mmbtu. “Seperti pula jikalau diperbandingkan dengan negara-negara di ASEAN,” kata Dana di kantornya, Jakarta, Rabu (7/2).

Artikel Terkait: besi siku

Dana menambahkan, kendala lainnya yakni maka belum dipegangnya sektor industri logam dasar yang menjadi permulaan dari program hilirisasi berbasis mineral logam. Berdasarkan Dana, pemerintah via BUMN juga masih kurang berperan dalam pembangunan industri berbasis mineral logam.

Direktur Relasi Internasional Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) Purwono Widodo menambahkan, terhambatnya pertumbuhan industri juga sebab kapasitas industri ketika ini masih kurang mencukupi keperluan dalam negeri. Industri baja sendiri ketika ini seharusnya mengimpor keperluan bahan baku sebanyak 5,4 juta ton per tahun.

“Kapasitas masih kurang untuk memenuhi keperluan dalam negeri, baru sekitar 60% lah. Sempurna demand kan hampir 13 juta ton,” kata Purwono.

Berdasarkan Purwono, jumlah impor yang dilaksanakan industri baja ketika ini telah tak pas. Patut, industri baja di Indonesia cuma menjalankan impor bahan baku sebesar 10%.

“Apabila lebih dari itu tak balance, artinya dikendalikan impor. Minimal 10% telah normal. Tertibnya kini itu hakekatnya tak mandiri,” kata Purwono.

Dengan adanya hambatan hal yang demikian, Purwono memproyeksikan pertumbuhan industri logam dasar pada 2018 cuma berkisar di angka 8%. “Target itu dari pertumbuhan ekonomi ditambah sekitar 3%,” kata Purwono.
Sementara, Senior Vice Presiden Head of Marketing Krakatau Steel Bimakarsa Wijaya memprediksi pertumbuhan industri logam dasar pada 2018 sebesar 6-7%. Dengan seperti itu keperluan logam dasar diperkirakan sebesar 14 juta ton.

“Kami harapkan jangan lebih dari 50% impornya,” kata Bimakarsa. (Baca juga: Kejar Lewat Industri 5,67%, Lima Subsektor Manufaktur Jadi Andalan)

Untuk itu, pemerintah dipinta memberikan kepastian dan keberpihakan dalam menjamin ketersediaan bahan baku dan pasokan kekuatan. Dana mengatakan, pemerintah bisa memberikan insentif bagi perusahaan yang serius dan tetap melakukan hilirisasi dan pembangunan industri logam dasar.

“Selain harga yang berdaya saing dan dukungan infrastruktur,” kata Dana.

Kalau itu, pemerintah juga dipinta tetap dan konsekuen kepada kebijakan pendalaman struktur industri logam dasar. Dana mau pemerintah via BUMN bisa mensupport pengembangan industri logam dasar dalam negeri.
” dilaksanakan secara tetap, cara kerja industrialisasi akan jauh lebih matang sehingga memberikan efek pengganda yang lebih besar kepada pertumbuhan ekonomi,” kata ia.

Pemerintah juga dipinta menunjang pemanfaatan produk logam dasar dalam negeri dengan membikin kebijakan standarisasi kepada produk impor logam dasar. Lebih lanjut, Dana mengatakan, penerapan produk logam lokal juga bisa diutamakan kepada proyek-proyek yang dibiayai APBN.

“Tertibnya infrastruktur, otomotif, perkapalan, konstruksi, dan bagian,” kata Dana.

 

Artikel Terkait: wire mesh