Smart Office Membikin Pekerja Makin Cerdas

Jakarta – Berdasarkan Dell and Intel Future Worlforce Study 2016 hampir separo pekerja (45%) di kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ) mau dalam lima tahun ke depan mereka bisa berprofesi di sebuah smart office yang menawarkan IoT dan bermacam teknologi lainnya.

Hal ini menampilkan bahwa padahal gelombang teknologi baru, lebih-lebih teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), membikin para pekerja cemas, namun beberapa besar justru amat menginginkan teknologi mengambil peran yang lebih besar di daerah kerja.

Ada empat hal utama yang sepatutnya dipandang perusahaan berkaitan dengan kian populernya virtual office.

Pertama, smart office membikin pekerja menjadi lebih cerdas. Memang beberapa pekerja (23%) cemas mereka akan digantikan atau bertumpu pada kecerdasan buatan.

Tetapi, satu dari lima responden (21%) di APJ mengungkapkan, mereka mau bisa mengaplikasikan AR/VR (augmented reality/virtual reality) untuk memperkaya ketrampilannya, dan jumlah responden yang sama (21%) mengungkapkan, visualisasi 3D via AR/VR menolong mereka menerima pandangan baru-pandangan baru baru atau menuntaskan dilema yang ada.

Contohnya, Upskill (APX Labs) yang memaksimalkan teknologi software wearable yang bisa dipakai para pekerja untuk menerima perintah permulaan, validasi instan dari perbuatan yang mereka lakukan, dan kesanggupan interaksi data penghemat waktu lainnya ketika mereka berprofesi.

Mayoritas responden di Asian Pasific Japan (AP)J juga setuju bahwa kecerdasan buatan bisa memudahkan profesi mereka, meskipun solusi-solusi pemeliharaan prediktif berbasis IoT bisa menuntaskan tantangan operasional, seperti dilema downtime yang mendadak terjadi, efektivitas semua kelengkapan yang dipakai dan pengembalian aset (return of assets).

[Lihat Juga: sewa kantor murah jakarta selatan]

Telah menjadi tugas departemen/komponen TI untuk mengeksplorasi teknologi yang bisa menolong para pekerja lebih konsentrasi pada profesi yang memberi skor tambah bagi perusahaan ketimbang berkutat dengan profesi administratif di tiap departemen.

“Contohnya, sektor manufaktur yang pelaksanaan produksinya kian rumit. Keadaan ini memerlukan karyawan dengan ‘skill set khusus di tiap departemen/komponen. Komponen TI sepatutnya bisa menghadirkan cara kolaborasi yang tepat sasaran dan efisien supaya masing-masing departemen tak saling tumpang-tindih dalam melaksanakan pelaksanaan produksi dari hulu ke hilir,” kata Primawan Badri, Commercial CSG Director, Dell Indonesia dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin (2/10).

Smart office merupakan ekosistem yang amat terintegrasi yang paham keperluan pekerja. Lebih dari sepertiga pekerja amat antusias dengan peluang memanfaatkan IoT. Mereka dapat terhubung dengan bermacam perangkat secara nirkabel dan menganalisa data secara real time.

Salah satu perusahaan inovatif, Comfy, mengaplikasikan IoT untuk mengaitkan karyawan secara segera ke cara peredaran udara yang ada di gedung. Para pekerja bisa ‘memilih’ pembatasan temperatur di zona kerja mereka di gedung hal yang demikian.

Gagasan penerapan IoT untuk menyesuaikan ruang kerja layak kemauan masing-masing individu merupakan prospek yang menarik bagi banyak orang dan juga bisa menolong mengurangi konsumsi kekuatan bagi perusahaan.

IoT sekarang juga kian populer di Indonesia seiring kian banyaknya inisiatif smart city di bermacam kota di Indonesia.

Ketiga, smart office mensupport kerja remote. Studi Dell Technologies lainnya seputar Workforce Transformation menemukan bahwa lebih dari separo perusahaan di wilayah APJ mau menerima dukungan TI remote yang lebih mumpuni.

Pasalnya, banyak karyawan di kawasan ini yang berkeinginan berprofesi dari bermacam lokasi dan mengaplikasikan sebagian perangkat berbeda, kesanggupan berbagi file secara aman, dan kolaborasi lancar yang bisa menggantikan keperluan komunikasi tatap muka di masa depan.

Di Indonesia, IDC mengungkapkan sekitar 27% organisasi di Indonesia telah mengimplementasikan popularitas mobility dengan memanfaatkan aplikasi mobile.

Keempat, smart office menjaga keamanan pekerja. Meningkatnya jumlah perangkat yang dipakai pekerja menjadi sumber utama dilema keamanan bagi dua pertiga (71%) perusahaan-perusahaan di APJ.

Serangan ransomware baru-baru ini seperti WannaCry terang menampilkan bahwa perangkat endpoint merupakan mata rantai terlemah dalam cara jaringan sebuah perusahaan.

Menerapkan perangkat-perangkat terkini yang mempunyai teknologi keamanan yang lebih canggih yakni salah satu metode perusahaan bisa menentukan keamanan yang lebih bagus para karyawannya, tanpa menghalangi produktivitas mereka.

Keamanan Siber

Survei Global State of Information Security Lapangan 2017, yang diterbitkan PricewaterhouseCooper (PwC) berprofesi sama dengan majalah CIO dan CSO, menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia sudah memutakhirkan praktik keamanan siber mereka dengan 38% responden mengungkapkan sudah mengerjakan investasi untuk meningkatkan keamanan infrastruktur mereka.

Namun perusahaan konsisten menghadapi tantangan padahal segala teknologi baru terus masu para pekerja mengatakan hal terbaik yang dapat dikerjakan perusahaan untuk meningkatkan produktivitas mereka merupakan menentukan teknologi yang ditawarkan bisa berfungsi secara efisien.

Pemborosan waktu terbesar selama berprofesi merupakan program software dan perangkat yang lambat atau acap kali mengalami glitch, bukan rapat atau percakapan basa-basi.

Rupanya pengalaman karyawan secara intrinsik terkait erat dengan kemauan mereka dari sebuah smart office dan amat penting bagi pendapatan perusahaan. Jadi, pastikan menyediakan software dan perangkat handal untuk memberdayakan karyawan , bukan menghalangi mereka, bagus dikala mereka berada di kantor atau berprofesi secara remote.

Berikutnya, buat agenda investasi sumber energi bentang panjang yang mengedepankan retensi karyawan dan teknologi sebagai line item yang tak terpisahkan.